Performa Diri Merupakan Cerminan Suasana Hati

Dalam kajian tasawuf di Zawiyah Arraudhah Tebet, Selasa 14 Syawal 1440, KH. Muhammad Danial Nafis hafizhahullah menyampaikan didalam Kajian Kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah Syarh Al-Wasiyah As-Shiddiqiyah bahwa diantara ciri seorang muslim yang baik adalah ia senantiasa menampakkan keceriaan pada wajahnya, sebab hal itu merupakan akhlaq Rasulullah Saw yang Allah Swt perintahkan kita untuk meneladaninya.

Imam Abu Syaikh dalam Akhlaq an-Naby wa Adabihi meriwayatkan dari Abdullah bin Harits ra. beliau berkata:

ما رأيت أحدا أكثر تبسما من رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم

“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling banyak tersenyum kecuali Rasulullah saw”

Dalam riwayat lain Sayyidah Aisyah ra. berkata :

كان أبر الناس، ضحاكا بساما

“Rasulullah saw adalah sebaik-baik manusia, suka tertawa dan murah senyum”

Imam at-Thabrani dalam Makarim al-Akhkaq meriwayatkan secara marfu’ dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda :

إنكم لا تسعون بأموالكم، ولكن ليسعهم منكم بسط الوجه

“Sesungguhnya engkau tidak akan melapangkan hati manusia dengan hartamu, tetapi dengan sikap murah senyum diwajahmu. “

Raut wajah yang berseri-seri dan murah senyum menunjukan suasana hati yang damai, tidak ada beban di masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan, juga ketakutan dan kesedihan terhadap perkara-perkara duniawi yang mana hal ini merupakan ciri para kekasih Allah

إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

Seorang Muslim yang baik hendaknya senantiasa menunjukan keceriaan dan kegembiraan pada wajahnya, senantiasa murah senyum kepada sesama, dan apapun profesinya hendaknya ia berpenampilan rapih, bersih dan wangi.

Sehingga membuat nyaman siapapun yang bertemu dengannya, begitulah performa diri seseorang mencerminkan suasana hatinya.

Seorang Salik yang menapaki jalan ketuhanan adakalanya melewati jalan itu dengan hati yang penuh keceriaan dan kegembiraan dan adakalanya ia melewatinya dengan penuh cemas hingga bertemu dengan Al-Haqq.

Kecemasan yang dimaksud adalah terhadap urusan-urusan akhirat dan ibadahnya, sehingga ia terus memperbaiki dirinya dihadapan Sang Khaliq.

Meskipun begitu ia harus bisa menyimpan kecemasan itu dalam hatinya saja, sebagai bentuk keintiman kepada Allah swt, dan selalu menampakkan kegembiraan pada wajahnya sebagai bentuk kasih sayang kepada sesama makhluq.

Selain itu seorang Salik harus melatih dirinya agar bisa mensinkronkan antara ahwal suasana hatinya dengan logika fikirannya, karena rasa senang dan sedih yang melanda hati manusia sangat berkaitan erat dengan khouf dan rajaa’ yang keduanya merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Rasa senang dan sedih yang kadang datang tanpa sebab itu harus di arahkan kepada urusan-urusan akhirat agar keduanya tidak menjadi sekedar ilusi yang terpaku pada hal-hal duniawi.

Caranya adalah apabila hati seorang murid dirundung kesedihan, maka akalnya segera merespon dengan mengingat dosa-dosa yang telah ia lakukan dan perintah Allah yang telah banyak ia tinggalkan.

Sehingga murid dapat meraih maqom khouf yakni merasa cemas dengan murka Allah sehingga ia bergegas untuk melaksanakan perintah-Nya.

Begitu pun ketika hatinya tiba-tiba merasakan senang dan gembira, maka akalnya segera merespon dengan mengingat anugerah Allah atas dirinya dan Rahmat serta ampunan-Nya yg luas sehingga murid dapat meraih maqom Rojaa’ yakni hanya berharap pada kasih sayang Allah sehingga ia tidak putus asa atas Rahmat-Nya.

Karena Khouf dan Rajaa’ adalah ibarat dua sayap bagi seorang Murid yang akan mengantarkannya terbang menuju maqom dan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

*Review Kajian Tasawuf bersama KH. Muhammad Danial Nafis di Zawiyah Arraudhah Tebet, Selasa 14 Syawal 1440 / 18 Juni 2019

Ditulis oleh : As’ad Syamsul Abidin